Sabtu, 10 Maret 2012

Bikhulusin Niat (dengan Ketulusan Niat)


Sudah menjadi kewajiban bagi setiap makhluq untuk  senantiasa beribadah kepada sang khaliq, Rabul ‘Izzati. Seorang anak berbakti pada kedua orang tua, seorang santri berbakti kepada pesantren (almamater) nya, pun seorang istri berbakti kepada suami.

Sungguh indah jika setiap langkah ‘ibadah’ itu diliputi dengan nafas ikhlas, bukan dasar terpaksa, beban, hutang budi, atu sejenisnya. Tak ayal kerikil-kerikil tajam menjadi sandungan dalam melangkah. Usah mengeluh karena kerikil tajam itu lah yang akan mewarnai cerita hidupmu dalam mengabdi padanya. Bukan begitu?

Ketulusan niat bersahabat dengan keadaan hati seiap insan. Ketulusan akan terpancar dari hati yang bersih dan bersinar. Ketika hati terasa sesak oleh ganjalan yang tak tahu rimbanya, saat itulah sinyal pertanda ‘nglilehke ati’ perlu ditanggapi serius oleh sang empunya. Banyak-banyak introspeksi -muhasabah - diri dan menghadapi skenarioNya dengan hati legowo.

Hati, bolak-balik, sudah menjadi fakta, keberadaannya sangat berpengaruh pada langkah yang akan kita tempuh. Dialah penentu warna hidup kita, putih atau hitam. Meski demikian, tegakah dirimu mengotori ‘cermin’ dengan noktah-noktah hitam tiada henti tiap detiknya? Bukankah itu akan menyulitkan dirimu sendiri ketika hendak bercermin? Pikirku,, buat apa capek-capek mengelap cermin yang sudah kotor dan akan terus kotor jika aku punya alat untuk mencegah noda itu muncul pada cerminku.

Tabassam akhy ukhty fillah, taqarrub ilallah, jadikan hidupmu lebih bermakna dengan senantiasa tafakkur pada ayat-ayat Nya. 

Senin, 13 Februari 2012

Rinduku

Tak tersadari oleh diriku waktu itu semakin dekat. Berjalan mendekatiku kian hari kian dekat dan aku tidak bisa lari. Hanya diam dan menunggu dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku tidaklah takut untuk menghadapinya tapi aku hanya cemas dan khawatir jika saja aku bukanlah wanita seperti yang diharapkannya.

Sebentar lagi akan datang orang sholih yang akan meminangku. Dia sangat sholih hingga membuatku tak berani untuk menatapnya. Sebentar lagi, ya aku katakan sebentar lagi untuk mendamaikan hatiku yang masih perang antara ‘putih’ dan ‘hitam’. Kalaulah memang orang sholih itu jodohku, sungguh tiada terkira alangkah bahagianya hatiku. Namun, jika Ia berkehendak lain maka aku hanya bisa pasrah merelakan kepergiannya dengan orang lain. Satu kalimat untuk beliau: “Aku akan selalu merindu panjenengan”.

Sulit untuk mendeskripsikan rasa ini, rasaku pada orang itu. Yang kutahu pasti, aku tengah mempersiapkan diri untuk pantas bersanding dengannya. Apalah aku ini, hanya orang biasa yang tak pernah berhenti bermimpi untuk menjadi pantas bila berinteraksi dengan siapa pun orang yang kutemui, pun dengan orang sholih itu yang mampu menciptakan rasa rindu ini di hatiku. Semoga Ia senantiasa menerangi langkahku, hamba yang naif.

Aku tak lagi mampu untuk berucap kepada orang sholih itu. Stuck. Doaku semoga aku bisa terjauh sementara dari rasa ini, bukan untuk selamanya karena aku akan menyimpan rapi rasa ini untuk kami sambut bersama dalam Ridho Nya. Amin